Selasa, Juni 25

Pengertian Bidan Menurut IBI, ICM Serta WHO


Definisi tersebut secara berkala di review dalam pertemuan Internasional atau Kongres ICM. Definisi terakhir disusun melalui konggres ICM ke 27, pada bulan Juli tahun 2005 di Brisbane Australia. Definisi bidan' menurut International Confederation Of Midwives (ICM) yang dianut dan diadopsi oleh seluruh organisasi bidan di seluruh dunia, dan diakui oleh WHO dan Federation of International Gynecologist Obstetrition (FIGO). Pengertian Bidan Menurut WHO, IBI, ICM adalah sebagai berikut :

Pengertian bidan menurut ICM (International Confederation Of Midwives)
Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki ijin yang sah (lisensi)untuk melakukan praktik kebidanan.

Pengertian bidan menurut IBI (Ikatan Bidan Indonesia)
Seorang perempuan yang telah lulus dari pendidikan bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister,sertifikasi dan atau secarah sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan .

Pengertian bidan menurut WHO
 Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan.

Sumber: SJ

Minggu, Juni 16

Cari Tahu lebih banyak Penyakit Panu (Tinea Versicolor)


Panu atau tinea versicolor disebabkan oleh infeksi jamur Malazessia furfur yang berkembang biak secara aktif di permukaan kulit. Berikut Ulasan lengkap tentang tugasku dalam materi Tinea Versicolor aku tuangkan dalam personal blog bidanendah.blogspot.com



BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Panu yang dalam bahasa kedokteran disebut dengan Tinea Versicolor merupakan jenis penyakit kulit yang ditandai dengan bercak putih dan gatal jika terkena keringat. Penyakit ini mudah sekali menular, baik secara langsung melalui sentuhan kulit penderita yang terkena panu atau melalui barang-barang yang dipakai oleh penderita.
Panu atau tinea versicolor disebabkan oleh infeksi jamur Malazessia furfur yang berkembang biak secara aktif di permukaan kulit. Daerah yang sering diserang jamur ini, yaitu punggung, leher, tengkuk, dan dada. Penyakit ini terutama menyerang orang yang banyak mengeluarkan keringat dan kurang menjaga kebersihan kulit.

1.2 Tujuan masalah
1) Untuk mengetahui pengertian panu
2) Untuk mengetahui penularan pada panu
3) Untuk mengetahui cara penanganan / pengobatan panu


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 faktor agent
Penyebab dari penyakit panu ini adalah fungi Malassezia furfur. Panu dapat berwarna kehitaman (hyperpigmented), tetapi dapat juga berwarna pucat (hypopigmented). Dalam dunia medis penyakit panu biasa disebut dengan Ptyriasis Versicolor, penyakit ini biasanya kumat-kumatan dan jarang menimbulkan keluhan. Penyebab dari penyakit ini biasanya adalah orang yang melakukan banyak aktivitas dan mengeluarkan keringat yang banyak. Entah itu anak kecil orang muda maupun orang dewasa.

2.2 faktor host
Penyakit ini biasanya menderita diderita oleh orang yang kurang menjaga kebersihan kulitnya. Infeksi permukaan pada kulit ini disebut penyakit panu, ini banyak terjadi di Indonesia dan daerah tropic lain.

2.3 faktor environment
Dermatomikosis didaerah tropic yang banyak ditemukan adalah penyakit panu, terutama pada orang yang banyak berkeringat dan jarang mandi.

2.4 port of entry and exit
Daerah yang sering diserang jamur ini, yaitu punggung, leher, tengkuk, dan dada. Penyakit ini terutama menyerang orang yang banyak mengeluarkan keringat dan kurang menjaga kebersihan kulit. Penyakit ini mudah sekali menular, baik secara langsung melalui sentuhan kulit penderita yang terkena panu atau melalui barang-barang yang dipakai oleh penderita, bergantian sabun dan handuk.

2.5 pencegahan transmisi
1) Selalu menjaga kebersihan kulit
2) Mandi 2 kali sehari
3) Gunakan pakaian yang mudah menyerap keringat
4) Jangan gunakan pakaian, handuk atau saputangan yang dipakai penderita

BAB III PEMBAHASAN

3.1 PENCEGAHAN
1) Mengonsumsi buah yang mengandung antioksidan sehingga bisa menimbulkan system kekebalan tubuh. Semakin tinggi system imun di dalam tubuh  maka semakin cepat proses penyembuhan penyakit panu.
2) Mengonsumsi sayuran setiap hari. Karena sayur juga mampu meningkatkan system kekebalan tubuh namun jika dikonsumsi secara teratur.
3) Madu berkjasiat melancarkan peredaran darah. Apapun bentuk madu tersebut, madu asli atau madu yang sudah diproses, bahan makanan ini bisa memberikan efek positif dan efek yang baik pada pengobatan penyakit kulit panu.
4) Cengkeh mempunyai kemampuan alami untuk melawan infeksi jamur. Anda bisa memakainya untuk pengobatan luar maupun pengobatan dalam. Mengunyah cengkeh secara rutin dapat membantu mencegah infeksi jamur yang menempel pada tubuh.
5) Jaga kesehatan anggota tubuh
6) Biasakan tidak memakai peralatan mandi bergantian, seperti handuk
7) Setelah habis setiap olah raga ada baiknya langsung mandi yangg bersih menggunakan sabun anti-septik
8) Selalu mengkonsumsi vitamin C

3.2 PEMBERANTASAN
Bahan alami lain yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit panu adalah lengkuas, sambiloto, kunyit, asam jawa, dan lain sebagainya. Dengan menggunakan bawang putih untuk mengatasi panu, berikut ini cara menggunakannya.
1) Sediakan bawang putih yang cukup besar, lalu potonglah bawang putih tersebut menjadi dua bagian.
2) Selanjutnya silahkan gosokan belahan bawang putih tersebut ke kulit yang ada panunya.
3) Gosok agak keras sampai kulit agak mengelupas. Jika berhasil akan kering dan si panu pun akan menghilang.
4) Lakukan secara teratur dua kali sehari.

3.3 PENGOBATAN
Pengobatan penyakit panu alami dapat dilakukan dengan rimpang lengkuas 1 jari, bawang putih 1 umbi, dan jeruk nipis 1 buah.  
Cara pembuatannya adalah lengkuas dan bawang putih ditumbuk halus dan dicampur air jeruk nipis. Cara pemakaiannya adalah dengan mengoleskan ramuan ke bagian kulit yang terkena panu secara teratur.
 
Pengobatan penyakit panu alami yang lain adalah dengan lengkuas. Lengkuas dapat mengobati perut kembung dan sebah. Lengkuas juga dapat mengobati panu, kurap, eksim, bercak-berak kulit, dan tahi lalat (sproeten). Lengkuas adalah obat ampuh untuk meredakan demam, pembengkakan limpa, pemulihan rahim pasca bersalin, radang telinga, bronkitis, dan diare. Lengkuas juga dapat dimanfaatkan sebagia pembunuh jamur kulit, obat masuk angin, gig ngilu, dan obat kuat.  

Cara mengobati panu alami dengan lengkuas adalah dengan ambilah 1/8 rimpang lengkuas, giling halus, lalu tambahkan minyak kelapa dan oleskan pada kulit yang terserang panu.

BAB IV PENUTUP

A.  KESIMPULAN
Panu secara kasat mata akan tampak berupa bercak berwarna, bervariasi dari putih sampai cokelat kehitaman, dengan batas yang tergolong cukup bila dibandingkan dengan kulit disekitarnya. Bila dikerok akan tampak serpihan-serpihan keputihan diatas kulit yang menderita panu. Penyakit ini biasanya menderita diderita oleh orang yang kurang menjaga kebersihan kulitnya

B.  SARAN
1) Disarankan kepada semua pihak yang membaca makalah ini, agar dapat hendaknya makalah ini dijadikan landasan pengetahuan dalam pelaksanaan perawatan kulit.
2) Penulis berharap semoga para pembaca dan penulis khususnya, dapat menambah pengetahuan yang lebih mendalam dan sangat berarti.

DAFTAR PUSTAKA

1. Judanarso, Jubianto. 2002. Ulkus Mole. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi ketiga hal. 396-400. FK UI, Jakarta.
2. http://dranak.blogspot.com/2007/03/penyakit-panu.
3. http://anazhiljpla.blogspot.com/2009/06/mengenal-panu-atau-pitiriasis.



Berikut Gambar-gambar tentang Penyakit Kulit Panu



Berikut tadi  Penyakit Panu  (Tinea Versicolor) yang dipost Bidan Endah semoga bisa membantu  yang sedang mengerjakan tugas maupun untuk ujian, semoga bermanfaat

Sabtu, Juni 15

Cari Tahu Tentang Penyakit Rubella

Rubella atau biasa dikenal campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Penderita penyakit rubella kebanyakan anak-anak usia dini, sedangkan pada usia lanjut relative jarang ditemukan. Nah Berikut ini  Ulasan lengkap tentang tugasku dalam materi Rubella yang  lebih dikenal campak jerman aku tuangkan dalam personal blog bidanendah.blogspot.com

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Rubella paling sering terjadi pada akhir musim dingin dan awal musim semi dan biasanya menyerang kelompok usia sekolah, pada orang dewasa 80 – 90 telah imun. Epidemi besar terjadisetiap 6 – 9 th. Penularan biasanya lewat kontak erat misalnya lewat sekolah / tempat kerja.

Rubella (atau biasa disebut campak Jerman) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Penderita penyakit rubella kebanyakan anak-anak usia dini, sedangkan pada usia lanjut relative jarang ditemukan. Bahkan, banyak orang telah terkena rubella dalam bentuk ringan tidak pernah didiagnosis, hal ini disebut sebagai infeksi subklinis. Vaksinasi rubella kini memberikan dampak yang cukup baik karena efektif menurunkan angka penderita terutama bagi anak-anak.

Penyakit ini disebabkan oleh virus Rubella yang termasuk family Togaviridae dan genus Rubivirus, infeksi virus ini terjadi karena adanya kontak dengan sekret orang yang terinfeksi; pada wanita hamil penularan kejanin secara intra uterin. Masa inkubasinya rata-rata 16-18 hari. Periode prodromal dapat tanpa gejala (asimtomatis), dapat juga badan terasa lemah, demam ringan, nyeri kepala, dan iritasi konjungtiva. Penyakit ini agak berbeda dari toksoplasmosis karena rubella hanya mengancam janin.

Bila didapat saat kehamilan pertengahan pertama, makin awal (trimester pertama) ibu hamil terinfeksi rubella makin serius akibatnya pada bayi yaitu kematian janin intrauterin, abortus spontan, atau malformasi congenital pada sebagian besar organ tubuh (kelainan bawaan): katarak, lesi jantung, hepatosplenomegali, ikterus, petekie, meningo-ensefalitis, khorioretinitis, hidrosefalus, miokarditis, dan lesi tulang. Sedangkan infeksi setelah masa itu dapat menimbulkan gejala subklinik misalnya khorioretinitis bertahun-tahun setelah bayi lahir (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981).

2.   Tujuan Umum
1) Menjelaskan tentang Pengertian Rubella
2) Menjelaskan tentang Etiologi Rubella
3) Menjelaskan tentang Tanda dan Gejala Rubella
4) Menjelaskan tentang Diagnosis Rubella
5) Menjelaskan tentang Cara penularan Rubella
6) Menjelaskan tentang Pengaruh Rubella terhadap kehamilan dan pada Janin
7) Menjelaskan tentang Pencegahan Rubella
8) Menjelaskan tentang Penatalaksanaan Rubella

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

a.Faktor agent
Agent biotis penyakit Rubella adalah virus Rubella suatu virus RNA dari golongan Togavirus.

b. Faktorhost
Pada penyakit campak jerman adalah manusia yang meliputi jenis kelamin, umur dan pertahanan tubuh.
1) Petugas rumah sakit yang kontak dengan anak kecil yang menderita penyakit rubella
2) Ibuhamil yang menderita penyakit rubella
3) Bayi yang lahir dari ibu yang menderita rubella

c.Faktor Environment
Dalam penyakit campak, udara termasuk dalam lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi penularan penyakit ini.
Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
1) Cuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis kerja bagi tenaga kesehatan yang kontak langsung dengan penderita rubella.
2) Gunakan pelindung diri (masker, pakaiankerja)
3) Imunisasi
4) Menjaga daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi dan istirahat cukup serta olahraga teratur.

d.faktor port of entry end exit
Dimulai dengan pintu masuk (port d’ entrĂ©e) kuman dan dengan pintu keluar (port d’ exit) yang biasanya sebuah tetapi kadang-kadang dapat bersifat multiple Banyak. Pintu keluar yang penting adalah saluran nafas,saluran cerna,kulit/luka dan darah

e. Factor Transmisi
Virus Rubella ditularkan melalui urin, kontak pernafasan, dan memiliki masa inkubasi 2-3 minggu. Penderita dapat menularkan virus selama seminggu sebelum dan sesudah timbulnya ruam (bercak merah) pada kulit.  Seseorang yang terinfeksi tetapi tidak memunculkan gejala masih bias menyebarkan virus.

Penularan virus rubella melalui udara dengan tempat masuk awal melalui nasofaring dan orofaring. Setelah masuk akan mengalami masa inkubasi antara 11 sampai 14 hari sampai timbulnya gejala. Hampir pasien akan timbul ruam. Penyebaran virus rubella pada hasil konsepsi terutama secara hematogen. Infeksi kongenital biasanya terdiri dari 2 bagian : viremia maternal dan virema fetal.

Viremia maternal terjadi saat replikasi virus dalam sel trofoblas. Kemudian tergantung kemampuan virus untuk masuk dalam barier plasenta. Untuk dapat terjadi viremia fetal, replikasi virus harus terjadi dalam sel endotel janin. Viremia fetal dapat menyebabkan kelainan organ secara luas. Bayi-bayi yang dilahirkan dengan rubella kongenital 90% dapat menularkan virus yang infeksius melalui cairan tubuh selama berbulan-bulan. Dalam 6 bulan sebanyak 30 ± 50 %dan sebanyak dan dalam 1 tahun sebanyak kurang dari 10%. Dengan demikian bayi-bayi tersebut merupakan ancaman bagi bayi-bayi lain, disamping bagi orang dewasa yang rentan dan berhubungan dengan bayi tersebut.

BAB III PEMBAHASAN

1. Pencegahan Rubella
1.Untuk perlindungan terhadap serangan virus rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps Mrasies Rubella). Vaksin rubella dapat diberikan kepada anak yang sistem kekebalan tubuhnya sudah berkembang yaitu pada usia 12 – 18 bulan. Bila pada usia tersebut belum diberikan, vaksinasi dapat dilakukan pada usia 6 tahun. sedangkan vaksinasi dapat dilakukan pada usia 6 tahun. Sedangkan vaksinasi ulangan di anjurkan pada usia 10 – 12 tahun atau 12 – 18 tahun (sebelum pubertas). Infeksi rubella, pada umumnya merupakan penyakit ringan.

2.Vaksin rubella tidak boleh diberikan pada ibu hamil, terutama pada awal kehamilan, dapat mendatangkan petaka bagi janin yang dikandungnya. Dapat terjadi abortus (keguguran), bayi meninggal pada saat lahir, atau mengalami sindron rubella kongenital, oleh karena itu, sebelum hamil pastikan bahwa anda telah memiliki kekebalan terhadap virus rubella dengan melakukan pemeriksaan anti – rubella IgG dan anti – rubella Ig M.
1) Jika hasil keduanya nagatif, sebaiknya anda ke dokter untuk melakukan vaksinasi, namun anda baru diperbolehkan hamil 3 bulan setelah vaksinasi.
2) Jika anti – rubella IgG saja yang positif, atau anti rubella IgM dan anti rubella- IgG positif, dokter akan menyarankan anda untuk menunda kehamilan.
3) Jika anti – rubella IgG saja yang positif, berarti anda pernah terinfeksi dan anti bodi yang terdapat dalam tubuh anda dapat melindungi dari serangan virus rubella. Bila Anda hamil , bayi anda pun akan terhindar dari Sindroma Rubella Kongenital. bila anda sedang hamil dan belum mengetahui apakah tubuh anda telah terlindungi dari infeksi Rubella, maka anda di anjurkan melakukan pemeriksaan anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgG : jika anda telah memiliki kekebalan( Anti- Rubella IgG ), berarti janin adapun terlindungi dari ancaman virus rubella.
4) Jika belum memiliki kekebalan (Anti – Rubella IgG dan Anti – Rubella IgG positif),, maka :
a. Sebaiknya anda rutin kontrol ke dokter
b. Tetap menjaga kesehatan dan tingkatan daya tubuh
c. Menghindari orang yang dicurigai terinfeksi rubella maka deteksi infeksi rubella pada ibu hamil yang belum memiliki kekebalan terhadap infeksi rubella sangat penting. ada beberapa pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi infeksi rubella, yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan anti Rubella IgM dan anti rubella IgG pada contoh darah dari ibu hamil. Sedangkan untuk memastikan apakah janin terinfeksi / tidak maka dilakukan pendeteksian virus rubella dengan teknik PCR (Polymerose Chain reaction).
d. Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban ( cairan amnion) / darah janin. Pengambilan ampel air ketuban atau pun darah janin harus dilakukan oleh dokter ahli kandungan dan kebidanan dan hanya dapat dilakukan setelah usia kehamilan diatas 22 minggu.
e. Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia, maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. setelah trimester I, kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6,8% dalam trimester II dan 5,3% dalam trimester III.

2. Penatalaksanaan Rubella
Penanggulangan infeksi rubella adalah dengan pencegahan infeksi salah satunya dengan cara pemberian vaksinasi. pemberian vaksinasi rubella secara subkutan dengan virus hidup rubella yang dilemahkan dapat memberikan kekebalan yang lama dan bahkan bisa seumur hidup.

Vaksin rubella dapat diberikan bagi orang dewasa terutama wanita yang tidak hamil. Vaksin rubella tidak boleh diberikan pada wanita yang hamil atau akan hamil dalam 3 bulan setelah pemberian vaksin. hal ini karena vaksin berupa virus rubella hidup yang dilemahkan dapat beresiko menyebabkan kecacatan meskipun sangat jarang.

Tidak ada preparat kimiawi atau antibiotik yang dapat mencegah viremia pada orang-orang yang tidak kebal dan terpapar rubella. Bila didapatkan infeksi rubella dalam uterus sebaiknya ibu diterangkan tentang resiko dari infeksi rubella kongenital. Dengan adanya kemungkinan terjadi defek yang berat dari infeksi pada trimester I, pasien dapat memilih untuk mengakhiri kehamilan, bila diagnosis dibuat secara tepat.

1. Imunitas selama kehamilan :
a) Kehamilan : penurunan fungsi kekebalan yang bersifat “cell mediated”
b) Infeksi virus pada wanita hamil akan memperlihatkan gejala yang lebih berat disbanding tidak hamil ( infeksi poliomyelitis, cacar air / chicken pox )
c) Sistemkekebalan yang masih belum matang pada janin akan menyebabkan janin atau neonates lebih rentan terhadap komplikasi yang diakibatkan infeksi virus

2. Terapi antivirus
a) Acyclovir adalah anti virus yang digunakan secara luas dalam kehamilan
b) Acyclovir diperlukan untuk terapi infkesi primer herpes simplek atau virus varicella zoster yang terjadi pada ibu hamil
c) Selama kehamilan dosis pengobatan tidak perlu disesuaikan
d) Obat antivirus lain yang masih belum diketahui keamanannya selama kehamilan: Amantadine dan Ribavirin

3. Pencegahan aktif dan pasif
a) Vaksin dengan virus hidup tidak boleh digunakan selama kehamilan termasuk polio oral, MMR (measles – mumps – rubella), varicella
b) Vaksindengan virus mati seperti influenza, hepatitis A dan B boleh digunakan selama kehamilan
4. Penatalaksanaan Selama Bersalin

1. Menjelaskan pada ibu kondisinya saat ini
a) Melibatkan keluarga agar memberi dukungan pada ibu
b) Memberi ibu rasa aman dan nyaman
c) Menganjurkan ibu untuk menenangkan pikiran dan perasaannya.

2. Memenuhi cairan dan nutrisi ibu
a) Memasang cairan infus
b) Menganjurkan pada ibu untuk makan dan minum yang cukup.
c) Melibatkan keluarga untuk membantu ibu agar makan dan minum yang cukup

3. Memberi dukungan psiklogis
a) Menganjurkan ibu untuk tetap tenang, bersitigfar, dan berdoa
b) Meyakinkan ibu, bahwa tim medis akan membantu ibu dengan baik.
c) Melibatkan keluarga untuk terus memberi dukungan pada ibu

4. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan mengurangi aktifitas yang berlebihan.

5. Mengevaluasi hasil konsepsi, kontraksi uterus dan tanda-tanda vital.

6. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan apabila terjadi komplikasi.

 
Korban campak jerman


BAB IV PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Rubella adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus (rubella), dikenal juga dengan nama German measles atau campak Jerman atau campak tiga hari. Infeksi rubella berbahaya bila terjadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan, maka resiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi terjadi trimester pertama maka resikonya menjadi 25% (menurut America College Obstrician and gynecologis, 1981). Resiko sindroma rubella congenital turun menjadi 1% bila infeksi terjadi pada trimester II dan III.

3.2 Saran

Sebaiknya kita lebih mempelajari ciri-ciri dari penyakit ini, karena apabila masih sulit dalam membedakannya, kita dapat salah mengambil tindakan. Walaupun symptom antara Toxoplasma dengan Rubella hampir sama, tapi infeksi yang ditimbulkan berbeda serta cara pengobatan dan langkah yang perlu diambil pun berbeda. Maka disini kita perlu ketelitian dalam membedakannya.
Perlunya catatan secara berkala mengenai penyakit-penyakit ini, agar kita dapat memantau sejauh mana penyakit ini berkembang dan dapat atau tidaknya menyebabkan KLB, serta dapat melakukan program pencegahan terhadap penyakit ini.

DAFTAR PUSTAKA

 Chahaya, Iindra. 2003. Epidemiologi “Toxoplasma Gondii”. Medan: Bagian Kesehatan Lingkungan FKM USU. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-indra%20c4.pdf
 Subekti, Didik T. 2005. Perkembangan Kasus Dan Teknologi Diagnosis Toksoplasmosis. Yogyakarta: FKH UGM. http://peternakan. litbang. deptan.go.id/ fullteks/lokakarya/ lkzo05-41.pdf
 Nurfidak.2006. Imunopatogenesis Toxoplasma Gondii Berdasarkan Perbedaan Galur.Medan  : FK USU.http://peternakan.litbang.deptan.go.id/fullteks/wartazoa/ wazo163-3.pdf
 http://dinkes.slemankab.go.id/wp-content/uploads/2011/07/profil-2010-kab-sleman-.pdf
 Depkes. 2011.Profil Data Kesehatan Indonesia tahun 2011. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Berikut tadi  Tentang Penyakit Rubella yang dipost Bidan Endah semoga bisa membantu  yang sedang mengerjakan tugas maupun untuk ujian, semoga bermanfaat

Jumat, Juni 14

Cari Tahu Lebih Banyak Tentang ULKUS MOLLE

Ulkus mole termasuk golongan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual,setelah kuman ditemukan oleh DUCREY pada tahun 1889. Penyakit ini lebih banyak terdapat pada daerah-daerah dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Karena kurangnya fasilitas diagnostik, sering terjadi salah diagnosis secara klinis sebagai sifilis stadium pertama. CHAPEL dkk. (1977) hanya dapat menemukan H.ducreyi pada sepertiga jumlah kasus yang secara klinis dibuat diagnosis sebagai ulkus mole.

Berikut Ulasan lengkap tentang tugasku dalam materi Ulkus Molleyang aku tuangkan dalam personal blog bidanendah.blogspot.com

 SEKILAS TENTANG ULKUS MOLLE

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Ulkus mole termasuk golongan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, ditetapkan sesuai dengan postulat KOCH setelah kuman ditemukan oleh DUCREY pada tahun 1889. Penyakit ini lebih banyak terdapat pada daerah-daerah dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Laporan-laporan hanya datang dari beberapa negara yang sudah berkembang, karena kesukaran menemukan penyebabnya. Karena kurangnya fasilitas diagnostik, sering terjadi salah diagnosis secara klinis sebagai sifilis stadium pertama. CHAPEL dkk. (1977) hanya dapat menemukan H.ducreyi pada sepertiga jumlah kasus yang secara klinis dibuat diagnosis sebagai ulkus mole.

1.2  Tujuan masalah
1) Untuk mengetahui pengertian Ulkus Mole
2) Untuk mengetahui penularan pada Ulkus Mole
3) Untuk mengetahui cara penanganan / pengobatan ulkus mole

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 faktor agent
Ulkus mole adalah penyakit infeksi pada alat kelamin yang akut, setempat disebabkan oleh Streptobacillus ducrey (Haemophillus ducreyi) dengan gejala klinis yang berupa ulkus nekrotik yang nyeri pada tempat inokulasi, dan sering disertai pernanahankelenjar getah bening regional. Berikut gambar Haemophilus ducreyi dibawah mikroskop cahaya
 
2.2 faktor host
Hanya mengenai orang dewasa yang aktif. Lebih banyak pada pria. Pembesaran kelenjar limfa inguinal tidak multipel, terjadi pada 30% kasus yang disertai radang akut. Kelanjar kemudian melunak dan pecah dengan membentuk sinus yang nyeri disertai badan panas. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa, gejala klinis yang khas dan pemeriksaan langsung bahan ulkus yang diberi pewarnaan gram.

2.3 faktor envinanment
Penyakit ini bersifat endemik dan tersebar di daerah tropik dan subtropik, terutama di kota dan pelabuhan.

2.4 port of entry and exit
Lokalisasi ulkus pada: preputium, glans, penis korpus penis, frenulum (pada penderita pria) vulva, clitoris, cervix, anus (pada penderita wanita). Penyakit ini ditularkan secara langsung melalui hubungan seksual, selain di daerah genetalia dapat juga terjadi inokulasi H. Ducreyi di jari, mulut dan dada. Pada tempat masukna mikro organisme terbentuk ulkus yang khas.

2.5 transmisi
Perbaikan tingkat ekonomi mempengaruhi berkurangnya frekuensi penyakit ini di negara-negara yang lebih maju. Tidak melalukan hubungan seks yang berganti-ganti pasangan dan tetap waspada pada tenaga kesehatan yang sedang menangani kasus ulkus mole tersebut.

BAB III PEMBAHASAN

3.1  Pencegahan
Gunakan kondom dengan cara yang benar dan jika ada kulit yang menutupi kepala penis maka sebaiknya dihilangkan (disunat/khitan) untuk mengurangi resiko terjangkit. Lebih baik lagi untuk pencegahan, jangan berganti-ganti pasangan seks karena penyakit ini banyak terjadi pada praktek-praktek prostitusi. Menghindari dari hubungan seks bebas, membersihkan alat genetalia sebelum terjadinya inkubasi di daerah genetalia atau memotong rambut kemaluan agar tidak terjadi penumpukan organisme untuk melakkukan penetrasi epidemis.

3.2  Pemberantasan
1) Segera pergi dokter untuk di obati
2) Ikuti saran dokter
3) Jangan berhubunganseks selama dalam pengobatan IMS
4) Jangan hanya berobat sendiri saja tanpa melibatkan pasangan seks  (khususnya pasangan sah)

3.3  Pengobatan
1. Obat sistemik
1) Azitromycin 1 gr, oral, single dose.
2) Seftriakson 250 mg dosis tunggal, injeksi IM.
3) Siprofloksasin 2x500 mg selama 3 hari.
4) Eritromisin 4x500 mg selama 7 hari.
5) Amoksisilin + asam klavunat 3x125 mg selama 7 hari.
6) Streptomisin 1 gr sehari selama 10 hari.
7) Kotrimoksasol 2x2 tablet selama 7 hari.

2. Obat local
Kompres dengan larutan normal salin (NaCl 0,9%) 2 kali sehari selama 15 menit.4

3. Aspirasi abses transkutaneus dianjurkan untuk bubo yang berukuran 5 cm atau lebih dengan fluktuasi ditengahnya.

BAB IV PENUTUP

A.   Kesimpulan
Ulkus mole adalah penyakit infeksi pada alat kelamin yang akut, setempat disebabkan oleh Streptobacillus ducrey (Haemophillus ducreyi) dengan gejala klinis yang berupa ulkus nekrotik yang nyeri pada tempat inokulasi, dan sering disertai pernanahankelenjar getah bening regional.
Diagnosa terutama berdasar adanya gejala klinik yang khas.Diagnosa pasti berdasar diketemukannya basil H. ducreyi. Penyakit ini ditularkan secara langsung melalui hubungan seksual, selain di daerah genetalia dapat juga terjadi inokulasi H. Ducreyi di jari, mulut dan dada. Pada tempat masukna mikro organisme terbentuk ulkus yang khas.

B.   Saran
1) Disarankan kepada semua pihak yang membaca makalah ini, agar dapat hendaknya makalah ini dijadikan landasan pengetahuan dalam pelaksanaan perawatan mata.
2) Penulis berharap semoga para pembaca dan penulis khususnya, dapat menambah pengetahuan yang lebih mendalam dan saangat berarti.
3) Agar kita terhindar dari berbagai jenis penyakit menular seksual dengan setia pada pasangan kita masing – masing.

DAFTAR PUSTAKA

1. Judanarso, Jubianto. 2002. Ulkus Mole. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi ketiga hal. 396-400. FK UI, Jakarta.
2. Martodiharjo, Sunarko. dkk. 2004. Ulkus Mole (chancroid). Dalam: Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. RSU dr.Soetomo hal. 203-207. Surabaya.

Semoga Membantu dan maaf tidak bisa menampilkan gambar penyakit karena gambar banyak bermuatan unsur p***o.

salam bidanendah

Kamis, Juni 13

HUBUNGAN DAN PERAN BIOKIMIA DENGAN KEDOKTERAN ATAU KEBIDANAN

Didalam biokimia mempelajari :

Sifat zat kimia di dalam jasad hidup dan senyawa yang diproduksinya
Fungsi dan transformasi zat kimia serta menelaah transformasi itu sehubungan dengan aktivitas kehidupan

Komposisi utama tubuh manusia terdiri dari protein, lemak, karbihdrat, air dan mineral. Air menjadi komponen yang paling utama kendati jumlahnya sangat bervariasi di antara berbagai jaringan tubuh.  Karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen merupakan konstituen utama sebagian besar molekul .

HUBUNGAN DAN PERAN BIOKIMIA DENGAN KEDOKTERAN ATAU KEBIDANAN
A.   SEMUA PENYAKIT MEMPUNYAI DASAR BIOKIMIAWI
1. Penyebab fisik : Trauma mekanik, suhu ysng tinggi atau rendah, perubahan mendadak dalam tekanan atmosfer, radiasai, shock listrik.
2. Penyebab kimia dan obat-obatan : Senyawa toksik tertentu, preparat obat, dan lain-lain.
3. Penyebab biologis : Virus, ricketsia, bakteri, fungi, bentuk parasit yang lebih tinggi.
4. Kekurangan oksigen : Perubahan sirkuasi darah, penurunan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen, keracunan pada enzim-enzim oksidatif dll.
5. Penyebab genetik : Congenital, molekuler.
6. Reaksi imunologi : Anafilaksis, penyakit autoimun
7. Gangguan keseimbangan gizi : Difisiensi gizi, kelebihan gizi.
8. Gangguan keseimbangan hormonal : Difisiensi hormonal, reproduksi hormone berlebihan.

B.   PENGGUNAAN BIOKIMIA DALAM PEMERIKSAAN PENYAKIT
1. Mengungkap penyebab fundamental dan mekanisme terjadinya penyakit, contohnya demonsrtasi yang memperlihatkan sifat cacat genetik pada kistik fibrois.
2. Menunjukan pengobatan yang rasional serta efektif, contohnya penggunaan diet rendah fenilalanin, untuk menggobati fenilketonuria.
3. Membantu dalam menegkkan dianosis penyakit yang spesifik, contohnya penggunaan enzim kreatin kinase MB (CKMB ) plasma untuk membantu penyakit infrak miokard.
4. Sebagai pemeriksaan screening untuk diagnosis penyakit-penyakit tertentu, contohnya penggunaanToksin Darah (TSH) untuk diagnosis hipotiroidisme congenital neonatal.
5. Memantau perjalanan penyakit tertentu, contohnya penggunaan enzim alanin aminotransferase (ALT) plasma untuk memantau penyakit hepatitis.
6. Menilai respon penyakit terhadap terapi, contohnya pemeriksaan kadar antigen untuk pasien yang mendapat terapi karena kanker colon.

24 STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN

Standart 24 Pelayanan kebidanan Pertolongan pertama atau penanganan kegawatdaruratan obstetric neonatal merupakan komponen penting dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kebidanan di setiap tingkat pelayanan.Bila hal tersebut dapat diwujudkan, maka angka kematian ibu dapat diturunkan. Berdasarkan itu, standar pelayanan kebidanan ini mencakup standar untuk penanganan keadaan tersebut, disamping untuk pelayanan kebidanan dasar. Terdapat Standart Pelayanan yang dikelompokan menjadi 5 bagian yang akan disajikan bidanendah, yaitu:

  • A. STANDAR PELAYANAN UMUM
Terdapat dua standar pelayanan
Standar 1 : Persiapan untuk kehidupan keluarga sehat Persyaratan standar : Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada perorangan, keluarga dan masyarakat terhadap segala halyang berkaitan dengan kehamilan, termasuk penyuluhan umum, gizi, KB, kesiapan dalam menghadapi kehamilan dan menjadi calon orang tua, menghindari kebiasaan yang tidak baik dan mendukung kebiasaan baik
Standar 2 : Pencatatan dan Pelaporan Persyaratan standar : Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang dilakukan, yaitu registrasi. Semua ibu hamil diwilayah kerja, rincian yan yg diberikan kpd setiap ibu hamil/bersalin/nifas dan BBL, semua kunjungan rumah dan penyuluhan kpd masy. Disamping itu bidan hendaknya mengikutsertakan kader untuk mencatat semua ibu hamil dan meninjau upaya masy yg berkaitan dg ibu dan BBL. Bidan meninjau scr teratur cat tsb untukmenilai kinerja dan penyusunan rencana kegiatan untuk meningkatkan pelayanannya
  • B. STANDAR PELAYANAN ANT ENATAL
Terdapat enam standar pelayanan
Standar 3 : Identifikasi Ibu hamil Persyaratan standar : Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untukmemberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami dan anggota masyarakat agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilan sejak dini secara teratur
Standar 4 : pemeriksaan dan pemantauan antenatal Persyaratan standar : Bidan memberikan sedikitnya 4 x pelyanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesa dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangung normal.
Bidan juga hrs mengenal resti/kelainan, khususnya anemia, kurang gizi,hipertensi, PMS/infeksi HIV;memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kes serta tugas terkaitlainnya yg diberikan oleh puskesman. Bidan harus mencatat data yang tepat pada setiapkunjungan Bila ditemukan kelainan, bidan harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujukuntuk tindakan selanjutnya
Standar 5 : Palpasi Abdomen Persyaratan standar : Bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara seksamamelakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, dan bilaumur kehamilan bertambahmemeriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepalajanin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelaianan serta melakukan rujukan tepat waktu
Standar 6 : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan Persyaratan standar : Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penganan dan atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan Persyaratan standar : Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknnya
Standar 8 : Persiapan Persalinan Pernyataan standar : Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta keluarganya pada trimester ketiga, untuk memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, di samping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan hendaknya melakukan kunjungan rumah untuk hal ini.
 C. STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN.
Terdapat empat standar dalam standar pertolongan persalinan
Standar 9 : Asuhan Persalinan Kala I. Pernyataan standar : Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan kebutuhan klien, selama proses persalinan berlangsung.
Standar 10 : Persalinan Kala II Yang Aman. Pernyataan standar : Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat.
Standar 11 : Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala Tiga. Pernyataan standar : Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.
Standar 12 : Penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomi. Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.
  • D. STANDAR PELAYANAN NIFAS. Terdapat tiga standar dalam standar pelayanan nifas
Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir. Pernyataan standar : Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontanmencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermia.
Standar 14 : Penanganan Pada Dua Jam Pertama Setelah Persalinan. Pernyataan standar : Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan tindakan yang diperlukan. Di samping itu, bidan memberikan penjelasan tentangan hal-hal mempercepat pulihnya kesehatan ibu, dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.
Standar 15 : Pelayanan Bagi Ibu Dan Bayi Pada Masa Nifas. Pernyataan standar : Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar; penemuanan dini penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas; serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

  • E. STANDAR PENANGANAN KEGAWATAN OBSTETRI DAN NEONATAL
Di samping standar untuk pelayanan kebidanan dasar ( antenatal, persalinan dan nifas), di sini ditambahkan beberapa standar penanganan kegawatan obstetri-neonatal. Seperti telah dibahas sebelumnya, bidan diharapkan mampu melakukan penanganan keadaan gawat darurat obstetric-neonatal tertentu untuk penyelamatan jiwa ibu dan bayi. Di bawah ini dipilih sepuluh keadaan gawat darurat obstetri-neonatal yang paling sering terjadi dan sering menjadi penyebab utama kematian ibu/bayi baru lahir.
Standar 16 : Penanganan Perdarahan Dalam Kehamilan, Pada Tri-mester III Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada kehamilan, serta melakukan pertolongan pertama dan merujuknya.
Standar 17 : Penanganan Kegawatan Pada Eklamsia. Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala eklamsia mengancam. Serta merujuk dan atau memberikan pertolongan pertama.
Standar 18 : Penanganan Kegawatan Pada Partus Lama/Macet Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus lama/macet serta melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu atau merujuknya.
Standar 19 : persalinan dg penggunaaan Vakum Ekstraktor Pernyataan standar : Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi vakum,melakukannya secara benar dalammemberikan pertolongan persalinan dengan memastikan keamnannya bagi ibu dan janin
Standar 20 : Penanganan Retensio Plasenta Pernyataan standar : Bidan mampu mengenali retensio placenta dan memberikan pertolongan pertama termasuk plasenta manual dan penangan perdarahan sesuai dengan kebutuhan
Standar 21 : Penangan Perdarahan Postpartum Primer Pernyataan standar : Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebuhan dalam 24 pertama setelah persalinan (perdarahan postpartum primer) dan segera melakukan pertolongan pertama untuk mengendalikan perdarahan
Standar 22 : Penanganan Perdarahan Postpartum Sekunder Pern yataan standar: Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala perdarahan postpartum sekunder, dan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan jiwa ibu dan atau merujuknya
Standar 23 : Penanganan Sepsis Puerperalis Pernyataan standar: Bidan mampu mengenali secara tepat tanda dan gejala sepsis puerperalis, serta melakukan pertolongan pertama atau merujuknya
Standar 24 : Penanganan Asfesia Neonatorum Pernyaan standar : Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan asfeksia, serta melakukan resusitasi secepatnya, mengusahakan bantuan medis yang diperlukan dan memberikan perawatan lanjutan.
Berikut tadi  24 Standart Pelayanan Kebidanan yang dipost Bidan Endah semoga bisa membantu  yang sedang mengerjakan tugas maupun untuk ujian, semoga bermanfaat >__<  maju terus ilmu kesehatan indonesia